Senin, 28 Mei 2012

PELAYANAN HOLISTIK


PELAYANAN HOLISTIK;
Mempersiapkan Jemaat yang Misioner

Apa itu Pelayanan Holistik?
Robert C. Anderson mendefinisikan kata ‘pelayanan’ sebagai “Seseorang yang bertanggung jawab mengelola aset dari rumah yang diaturnya agar sesuatu berjalan secara baik dan teratur”. Karena itu kita dapat katakan bahwa pelayanan merupakan kegiatan yang dilakukan oleh seseorang untuk menolong orang lain dalam memenuhi kebutuhan orang tersebut. Kegiatan ‘pelayanan’ ini berorientasi pada pemenuhan kebutuhan orang lain dengan bertanggung jawab. Sedangkan kata ‘holistik’ dalam KBBI berarti berhubungan dengan sistem keseluruhan sebagai satu kesatuan lebih dari pada sekedar kumpulan dari bagian-bagian. Gary T. Hipp menyatakan bahwa ‘holistik’ artinya “Perpaduan antara kehidupan lahir batin yang seimbang dengan memadukan ‘kaidah kencana’ mengacu kepada pengembangan masyarakat dan Amanat Agung Yesus Kristus”. Karena itu, “Pelayanan Holistik” artinya pelayanan yang dilakukan secara utuh, yakni pemberitaan Injil yang dapat menjawab kebutuhan manusia secara jasmani dan rohani.
Berbicara tentang kebutuhan jasmani artinya hal-hal yang bersifat lahiriah atau kebutuhan dasar manusia sedangkan kebutuhan rohani adalah hal-hal yang bersifat batiniah seseorang. Kalau kita memperhatikan dengan seksama bagian-bagian Alkitab maka kita dapat menemukan bahwa Firman Tuhan menghendaki agar umat Tuhan dapat membangun hubungan yang seimbang yakni antara Allah (hubungan vertikal) dan sesama (horizontal).  Sehingga implikasi praktis dari kehidupan rohani yang baik adalah peduli terhadap sesamanya yang dapat ditunjukkan melalui tindakan kasih atau menjawab kebutuhan secara jasmaniah orang-orang yang berada di sekitar kita. Ini dapat kita ketahui melalui 10 Hukum Musa. Hukum-hukum itu dibagi dalam dua bagian yaitu hukum 1-4 mengatur hubungan antara manusia dengan Allah dan hukum 5-10 mengatur hubungan manusia dengan sesamanya. Dalam pelayanan Tuhan Yesus kita juga menemukan bahwa Tuhan Yesus memberikan teladan kepada pengikut-Nya. Hal yang pertama yang IA lakukan adalah selalu berhubugnan dengan Bapa-Nya tetapi di sisi yang lain kehidupan Yesus sangat solider dengan orang-orang yang berada di sekitanya, salah satunya adalah dengan memenuhi kebutuhan mereka secara jasmani. Dengan demikian maka, ‘Pelayanan Holistik’ adalah pelayanan yang diinspirasikan oleh Alkitab dan semestinya kita melakukan pelayanan ini dengan giat sebagai tindakan ketaatan kita kepada Allah.

Apa yang Kita lakukan sebagai orang Percaya?
Ada banyak hal yang ditunjukan dalam Alkitab sebagai pedoman hidup bagi orang yang percaya kepada Yesus. Misalnya; PL mengatur tatanan hidup dengan hukum-hukum, kemudian PL juga mencatat kesaksian-kesaksian mengenai hidup umat yang diatur oleh hukum-hukum tersebut. Kita dapat melihat bahwa mereka yang taat kepada hukum-hukum itu mendapat berkat dan sebaliknya yang tidak mentaatinya mendapat ganjaran berdasarkan aturan dalam hukum-hukum tersebut. Karena itu sepatutnyalah kita sebagai orang percaya hidup menurut hukum-hukum dalam Alkitab.
Injil mencatat pelayanan Tuhan Yesus yang memberikan teladan bagi kita sebagai orang percaya (murid-murid Kristus). Untuk mengungkapkan teladan apa saja yang diberikan Tuhan Yesus bagi murid-murid-Nya di sini mungkin terlalu panjang tetapi saya hanya ingin menyoroti kehidupan Tuhan Yesus yang seimbang antara hubungan kepada Bapa dan solidaritas-Nya terhadap orang-orang disekitar-Nya. Kehidupan Tuhan Yesus yang demikian itu yang disebut dengan ‘Holistik’.
Dunia pelayanan dewasa ini memang membutuhkan kreatif-inovatif dari seorang pelayan. Kreatif-inovatif yang dimaksudkan bukan mengubah esensi dari pelayanan itu tetapi menawarkan sesuatu yang dikemas dalam pola yang baru. Saya sering sekali mendengar khotbah tentang persembahan. Khotbah ini disampaikan dengan harapan agar jemaat dengan sukarela menopang pelayanan dengan memberi persembahan. Secara alkitabiah, pelayanan dalam gereja merupakan tanggung jawab semua anggota jemaat termasuk mendanai pelayanan dimaksud. Seorang pelayan Tuhan yang kreatif-inovatif tidak saja menyampaikan khotbah tentang memberi atau khotbah tentang persembahan persepuluhan tetapi mencarikan solusi agar jemaat mendapat kehidupan yang layak dalam pengertian memiliki penghasilan. Jemaat yang dewasa imannya akan bertanggung jawab atas semua pelayanan dalam gereja termasuk mencari solusi agar keuangan gereja dapat mencukupi semua kegiatan pelayanan dalam gereja tersebut.  Saya mengutip satu paragraf dari MASTER PLAN PELAYANAN saya:
Sumber daya yang paling berpotensi untuk dikelola adalah jemaat, karena jemaatlah yang membantu pelayanan kita. Mereka yang membantu pelayanan berhak untuk mendapat penghidupan yang layak. Jemaat bukan dijadikan sebagai objek pelayanan tetapi juga menjadi rekan sekerja. Ada di antara jemaat yang membutuhkan pekerjaan untuk menghasilkan uang bagi kelangsungan hidupnya merupakan peluang bagi kita untuk menyediakan pekerjaan yang layak, disamping untuk kebutuhan hidupnya tetapi juga untuk menunjang pelayanan. Jemaat-jemaat yang memiliki pekerjaan tetap berkewajiban unuk menyokong pelayanan dengan penghasilannya tetapi mereka yang tidak mempunyai pekerjaan bisa direkrut mengelola usaha-usaha dari gereja.”
Seorang Pelayan Tuhan tidak saja menyampaikan hal-hal yang vertikalistis (membangun hubungan dengan Allah) tetapi juga memberikan jawaban terhadap persoalan-persoalan jasmaniah yang dihadapi jemaat (horisontalistis). Jemaat juga tidak saja hanya dipakai sebagai alat (instrument) dalam mencukupi kebutuhan pelayanan tetapi diajak untuk mengambil bagian dalam pelayanan sesuai talenta masing-masing. Sebab, tugas pemberitaan Injil adalah tugas semua orang percaya tanpa terkecuali.

Strategi Pelayanan Holistik
Pada umumnya kalau kita berbicara soal pelayanan maka orientasi berpikir kita adalah membangun hubungan dengan Tuhan atau mengajak orang melalui Firman Tuhan untuk hidup lebih dekat kepada Tuhan. Kalau kita berbicara tentang ‘Pelayanan Holistik’ maka orientasi kita tidak saja membangun hubungan dengan Tuhan atau mengajak orang untuk hidup lebih dekat dengan Tuhan tetapi orientasi berpikir juga mengarah kepada pemenuhan kebutuhan secara jasmani. Dengan demikian kita tidak saja membangun hubungan dengan Tuhan tetapi kita juga berpikir tentang kesejahteraan secara jasmani atau pemenuhan kebutuhan jasmani juga tercukupkan baik pelayan itu maupun orang yang sedang dilayani.
Pemikiran strategis untuk ‘Pelayanan Holistik’ mengarah kepada pemberdayaan ekonomi jemaat. Pemikiran ini bervariasi, terletak pada masing-masing sumber daya yang tersedia. Artinya tidak semua tempat memiliki strategi yang sama. Di bawah ini saya mengungkapkan ide strategis yang secara umum dapat mengakomodasikan jemaat menuju ekonomi mandiri yaitu:
1.       Gereja menyediakan sumber daya untuk dapat dikelola oleh jemaat sendiri. Sumber daya yang dimaksud disesuaikan dengan keadaan setempat.
2.       Gereja melatih tenaga untuk dapat mengelola sumber daya tersebut. Prioritas dari pelatihan adalah untuk penjangkauan jiwa-jiwa (menolong jiwa-jiwa dalam hubungan vertikal dengan Tuhan). Tenaga-tenaga tersebut juga trampil mengelola sumber daya yang dimiliki oleh gereja. Hal ini dimaksudkan untuk gereja memiliki dana sendiri dalam kegiatan penginjilan dan penginjilan yang dikerjakan juga menjangkau aspek rohani dan juga aspek jasmani dari jiwa-jiwa tersebut.
3.       Profit dari setiap usaha dapat dikelola oleh departemen khusus yang juga memiliki paradigma penjangkauan secara holistik. Hal ini dimaksudkan untuk regenerasi visi penjangkauan.
Sulit memang pemikiran ini dapat diterapkan dalam pelayanan dan kemungkinan juga mengalami tantangan. Ini merupakan hal yang wajar, sebab untuk memulai sesuatu yang baru apa lagi orang tidak terbiasa dengan sistem pelayanan seperti ini pastilah mengalami kendala. Tetapi tidak salah kalau mencoba. Hal yang penting untuk diperhatikan adalah pemberitaan Injil membutuhkan dana dan terkadang orang tidak mau melakukannya karena kekurangan dana tersebut. Pada hal pemberitaan Injil adalah perintah yang wajib (Mat. 28:19-20, I Kor. 9:16). Dalam Injil Mat. 28:11-15, mencatat tentang keseriusan orang tertentu untuk membayar sejumlah uang dan bertindak melalui politik untuk menyebarkan berita bohong (Yesus tidak bangkit tetapi mayat-Nya dicuri oleh murid-murid). Kalau orang Kristen tidak melakukan sesuatu untuk memberitakan berita yang benar maka kita bisa pastikan bahwa dunia ini akan muncul segala berita bohong tentang fakta Injil. Karena itu, semestinya kita sebagai orang percaya harus berpikir secara serius untuk mencari berbagai terobosan agar pemberitaan Injil tidak terhambat oleh karena alasan butuh banyak biaya dan kita tidak memiliki dana yang cukup.

Kiranya tulisan ini memberikan inspirasi dalam mengembangkan pelayanan lebih baik lagi.

Salam dan doa,

Apri Laiskodat

Tidak ada komentar: